Akankah Arab Saudi Buka Hubungan Diplomatik dengan Israel? Ini Kata Penyelidik

Liputan6. com, Jakarta kacau Uni Emirat Arab dan Israel resmi mengumumkan hubungan diplomatik antara kedua negara. Kedua negara akan bekerja sama pada bidang investasi, turisme, kesehatan, ketenteraman, dan berbagai sektor lain.  

Pihak AS selalu optimistis hubungan ini bisa mendatangkan perdamaian di Timur Tengah. Negeri Arab lain  diharapkan  akan mendaftarkan jejak Uni Emirat Arab untuk bekerja sama dengan Israel.    

“Ini adalah negara Arab prima yang menormalisasi hubungan dengan Israel sejak waktu yang lama, 26 tahun sejak Yordania. Kami berharap melihat ada lebih banyak negara yang melakukan hal sama, ” ujar penasihat senior presiden AS, Jared Kushner, pada konferensi pers di Gedung Putih seperti dikutip Jumat (14/8/2020).

Pengkritik Timur Tengah ternyata tidak kaget dengan normalisasi hubungan Uni Emirat Arab dan Israel. Pasalnya, perut negara itu diam-diam sudah lama bekerja sama.  

“Sudah lama sebenarnya. Ini hanya mengkonfirmasi bahwa Israel sama Asosiasi Emirat Arab telah resmi membuka hubungan diplomatik yang selama  ini di bawah tangan secara terpendam, ” ujar cendekiawan  Nahdlatul Ustazah (NU) Zuhairi Misrawi kepada Liputan6. com, Jumat (14/8/2020).  

Pria yang akrab disapa Gus Mis itu juga menyebut normalisasi antara UEA dan Israel sebagai lelucon. Ia  pun menilai ini hanya manuver AS untuk mencari simpati pemilih Muslim di pilpres AS tahun ini.

Namun, ia memprediksi bahwa Arab Saudi  bakal ikut berdamai dengan Israel.

“Habis itu akan menyusul Arab Saudi bakal berdamai dengan Israel, ” ujar Gus Mis lewat Twitter. Masa ditanya negara mana lagi yang ikut damai, ia menyebut bahan terkuat memang Arab Saudi dan  UEA.

“Arab Saudi, beberapa negara Teluk, yang paling pasti dua negara ini karena mereka menjadi proksinya Amerika di Timur Tengah, ” jelasnya.  

dua dari 3 halaman

Kebutuhan Ekonomi Timur Tengah

Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Yon Machmudi, juga ternyata tidak kaget dengan normalisasi. Ia menyebut normalisasi sudah mulai terasa ketika Donald Trump menawarkan kesepakatan damai Deal of the Century.  

Pada proposal damai, Trump menawarkan berbagai benefit investasi untuk mendamaikan Israel-Palestina. Yon Machmudi menilai negara-negara Arab  menimbrung tertarik pada investasi AS dan Israel karena kebutuhan ekonomi.

“Kita ketahui negara Timur Tengah sedang mengalami kebutuhan bakal ekspansi investasi. Dan investasi itu dijanjikan dari Israel, maka kemudian atas nama kerja sama ekonomi itu, normalisasi dijalankan, ” ujar Yon Machmudi.  

Ia pun  memprediksi  bahwa berikutnya Arab Saudi dan negara-negara Teluk lain juga tertarik untuk bahkan dekat dengan Israel.

“Tidak menutup kemungkinan Saudi bakal melakukan hal yang sama karena kepentingan dan kebutuhan ekonomi, ” jelasnya.  

Biar demikian, Yon Machmudi tidak yakin bahwa Palestina bisa mendapat mujur dari normalisasi. Palestina justru merasa ditinggalkan, sementara negara tetangganya menjemput untung dari investasi AS dan Israel.

Ke depannya, Palestina dikhawatirkan turut setuju proposal investasi karena kebutuhan ekonomi. Real, proposal damai versi Donald Trump, yang penuh iming-iming investasi, dianggap berat sebelah.

“Di dalam (Palestina) sendiri juga menyayat hati juga secara ekonomi, ketidakmampuan memenuhi roda pemerintahan, dan lain sebagainya, ” jelas Yon Machmudi. “Itu saya kira menjadi tekanan yang bisa dilakukan. ”

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Dibawah ini: