Barang bawaan Berat Eri Cahyadi Lanjutkan Perjuangan Risma Pimpin Surabaya

Promo menarik pada undian Data Sidney 2020 – 2021.

Liputan6. com, Surabaya kacau Pengamat politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokim Abdussalam mengungkapkan, Wali Kota Surabaya dan Pemangku Wali Kota Surabaya terpilih Eri Cahyadi-Armudji punya pikulan cukup berat karena disandang penerus Tri Rismaharini.

“Harapan masyarakat pada Mas Eri Cahyadi benar sangat tinggi. Dia digadang-gadang bisa seperti Bu Risma bahkan lebih. Menurut beta, masalah ini jangan dijadikan beban karena apa yang dihadapi Mas Eri dengan Bu Risma berbeda, ” ujar Surokim, Jumat (26/2/2021).

Di masa pandemi serupa sekarang ini, kata Surokim, yang dibutuhkan Eri serta Armudji adalah responsibilitas, bertambah agresif, tanpa meninggalkan individualitas khas Bu Risma. Kalau di masyarakat diketahui tersedia masalah, Eri harus tepat terjun di lapangan menyelesaikan masalah tersebut secepatnya.

“Selama 100 hari kerja Eri-Armudji, persentase dalam lapangan harus lebih penuh dibanding di kantor. Jika dipersentasekan, 70 persen dalam lapangan, 30 persen pada kantor. Semua masalah tata laksana biar dilakukan oleh pekerja, ” ucapnya.

Alasan kenapa harus banyak di lapangan, jelas Surokim, di masa pandemi seperti sekarang ini, masyarakat memerlukan sentuhan seorang pemimpin tepat. Apalagi jejak 100 hari kepemimpinan akan sangat membekas di masyarakat.

Soal solusi yang diberikan Eri Cahyadi itu jadi atau tidak, selama periode pandemi ini orang hendak lebih bisa memahaminya, seandainya solusi tersebut kurang berlaku baik.

“Selama 100 hari, orang akan melihat kinerja Mas Eri. Apakah sama dengan Bu Risma yang memiliki ideal pekerja keras. Namun, kerja keras saja tidak cukup untuk Mas Eri. Kudu mengayomi. Sehingga harus tak ada jarak antara Akang Eri dengan masyarakat, ” tuturnya.

2 dari 3 halaman

Non Formal

Karena harus sering ke lapangan itu, lanjut Surokim, penampilan Eri juga kudu diperhatikan. Tidak boleh berpenampilan yang formal seperti memakai seragam dinas. Saat dalam lapangan cukup memakai baju non formal atau baju sehari-hari, sehingga terkesan santai.

“Saya memperhitungkan orang Surabaya saat itu itu tidak membutuhkan sembako. Tapi mengayominya itu bertambah penting. Memberikan semangat sambil menepuk pundak masyarakat itu lebih penting. Sebab era pandemi ini tidak mampu diselesaikan sendiri-sendiri, tapi harus besama-sama. Jika sudah sejenis, Mas Eri akan terkesan tidak hanya bekerja bersusah-susah seperti Bu Risma, tapi juga bisa ngayomi, ” tandasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di lembah ini: