Misi Menperin Tingkatkan Kualitas Garam Di dalam Negeri

Liputan6. com, Jakarta – Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyebut kalau masalah garam rakyat belum terselesaikan hingga saat ini. Bahkan, tidak ada pihak yang ingin mereka keluarnya.

“Masih rendahnya kualitas garam rakyat sehingga tidak memenuhi standar untuk kebutuhan pabrik. ini harus dicarikan jalan keluarnya. Kita tahu masalahnya tapi nggak pernah dicarikan jalan keluarnya, ” kata Jokowi di Istana Mandiri.

Tak hanya itu, Jokowi juga mengamati masih rendahnya produksi garam nasional di Indonesia. Sehingga terus-terusan melangsungkan impor garam.

“Sehingga kemudian cari yang paling jujur yaitu impor garam. Dari zaman gitu terus dan enggak pernah ada penyelesaian, ” jelas Jokowi.

Menyikapi hal itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya mendorong pemenuhan garam industri di negara. Kebijakan tersebut berangkat sejak kebutuhan garam sebagai bahan baku bagi sektor manufaktur yang diproyeksikan akan terus meningkat setiap tahunnya.

“Kebutuhan garam di 2020 mencapai 4, 4 juta ton, dengan 84 persen dari angka tersebut merupakan kebutuhan pabrik manufaktur. Ditambah adanya pertumbuhan industri eksisting 5-7 persen serta penambahan industri baru, ” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, di Jakarta, Sabtu (10/10/2020).

Menurut Agus total keinginan garam untuk bahan baku sektor manufaktur belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh industri pengolahan garam pada dalam negeri, sehingga dilakukan memasukkan untuk mengisi kebutuhan tersebut. Menetapi sebagai bahan baku industri, garam lokal masih perlu peningkatan di segi aspek kuantitas, kualitas, kontinuitas pasokan dan kepastian harga.

“Impor garam sebenarnya ialah keterpaksaan, demi menjamin kepastian pasokan bahan baku garam bagi industri dalam negeri, khususnya sektor alkali (chlor alcali plant/CAP), pulp, kertas, aneka pangan, farmasi, kosmetik, dan pengeboran minyak, ” tuturnya.

Adapun nilai tambah di dalam garam diperoleh melalui proses produksi. Hasil pengolahan garam impor bakal diekspor kembali dengan proyeksi jumlah yang lebih besar. Menperin mempertontonkan, pada tahun 2019, nilai memasukkan garam industri sebesar 108 juta dolar AS, sedangkan ekspor keluaran yang dihasilkan mencapai 37, tujuh miliar dolar AS.

2 dari 3 halaman

Perbaikan Metode Penerapan

Oleh karena itu, Kemenperin terus berupaya memprioritaskan peningkatan kualitas garam penerapan dalam negeri, diantaranya melalui perbaikan metode produksi serta penerapan teknologi baik di lahan maupun di industri pengolah garam. Untuk menjunjung upaya ini, Kemenperin terus berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga asing.

“Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi di bawah harmonisasi Kementerian Riset dan Teknologi telah mencanangkan beberapa program untuk bisa meningkatkan pemanfaatan garam lokal buat sektor industri, ” lanjutnya.

Agus menjelaskan, program dengan dimaksud antara lain implementasi teknologi garam tanpa lahan yang merupakan garam dari rejected brine Penyemangat Listrik Tenaga Uap (PLTU). Kemudian mendorong pabrik pemurnian garam anak buah menjadi garam industri. “Ini telah dibangun di Gresik dengan daya 40 ribu ton, ” paparnya.

Selanjutnya dilakukan pemeriksaan lahan pergaraman dengan pembenahan lahan pergaraman terintegrasi minimum 400 hektare. “Pemerintah juga mendorong investasi pembangunan lahan garam industri di Nusa Tenggara Timur serta mendorong revitalisasi dan pengembangan pabrik garam farmasi oleh PT Kimia Farma, ” lanjutnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Lembah Ini: